TEKNIK SIPIL USU (2) : SEBUAH KISAH DARI PARA ALUMNI

Tags


CIVIL ON UNITY

CIVIL ON UNITY

Kalau postingan yang lalu saya bercerita sedikit tentang Teknik Sipil USU, kali ini saya mau cerita tentang kehidupan para penghuninya. Dari pertama kali masuk sampai sekarang saya paling suka mendengar kisah pengalaman hidup para alumni dan senior ketika mereka menyandang status sebagai mahasiswa teknik sipil USU.

Nah salah satunya cerita dari dosen saya Pak Andi. Pas masa beliau dulu ketika lagi berlangsung kegiatan belajar-mengajar, ada saja yang aneh. Mulai dari dilempar batu kaca kampus oleh fakultas tetangga, sampe masalah ujian yang sampe bawa-bawa klewang biar lulus. Yang lebih lucu pas beliau cerita, dulu pas anak sipil lawan diserang anak sastra, ada beberapa mahasiswa yang terlibat dipanggil ke ruang kepala jurusan. Firasat akan dimarahi habis-habisan, ternyata tanpa diduga malah disuruh untuk menyerang balik buat harga diri. Wah, luar biasa sipil jaman dulu. Continue reading

TEKNIK SIPIL USU (1) : SEBUAH KISAH DI KAMPUS TUA

Tags

, ,


SIPIL ! JAYA !

SIPIL-SIPIL !! BAPAK TEKNIK !!

sipil 1

Kalau anda orang yang pertama kali ke kota Medan dan tiba-tiba singgah di Universitas Sumatera Utara pada sekitar bulan Agustus dan September, cobalah singgah sebentar ke Fakultas Teknik. Saat itu mungkin sedang ada kegiatan yang dinamakan OSPEK atau bahasa kerennya PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru). Nah, jangan lupa untuk pasang penyumbat telinga dan hati-hati dengan jantung anda karena pada saat itu volume suara akan meningkat drastis lebih dari 1 juta desibel (lebay :P).

Itulah Fakultas Teknik pada waktu OSPEK. Salah satu fakultas tertua di USU ini selalu menjadi bahan perbincangan setiah waktunya. Mulai dari prestasi, isinya laki semua, hukuman, laporan, pratikum sampe hal berantem semuanya yang serba laki-laki ada disini (homo aja yang belum ketahuan).

Nah ngomong-ngomong soal tua nih, coba cek-cek dulu ke kaca anda. Mana tahu keriputnya nambah :P. hehe :kidding:

Jurusan Teknik Sipil adalah yang paling tua di Fakultas Teknik. Sebagai jurusan Teknik pertama di Sumatera, Teknik Sipil merupakan cikal bakal dari bangkitnya pembangunan di pulau Sumatera dan awal dari lahirnya jurusan teknik – teknik lain yang saling melengkapi.

Seiring bertambah tua umurnya, Teknik Sipil USU punya banyak cerita. Dari yang sedih, duka, senang, susah, bonyok pokoknya berbagai kisah dah bahkan masih terasa hinggi generasinya saat ini yaitu angkatan 2013.

Waktu pertama kali masuk kampus ini, gak kebayang deh jurusan yang saya kira dulu kerjanya buat jadi Pegawai Negeri Sipil (dulu karena ada Sipil nya saya kira kerjanya langsung jadi PNS) ternyata sangat erat sekali dengan yang namanya pekerjaan kuli bangunan. Kuliahnya pun penuh dengan hitungan. Bahkan mata kuliah Bahasa Indonesia pun ada hitungannya juga -___-. Tak hanya itu, di sana bila anda belum pernah kena yang namanya SIMALAKAMA, anda bakal merasakannya. Bayangkan ada yang namanya jadwal pratikum yang menyita banyak waktu yang awalnya harusnya berharga malah ajdi sia-sia. Anda pun harus siap begadang mempersiapkan diri dengan tumpukan-tumpukan tugas yang bejibun banyaknya. Pas lagi banyaknya tugas, yang paling serem tuh kalau kena marah dosen terus langsung dikasih nilai gagal, apes dah hidup ini.

Itulah kehidupan Sipil, Kampus dimana mahasiswa dituntut untuk dapat bekerja dibawah tekanan seberat apa pun itu. Dan hasilnya, jangan sepele. Lulusan dari Teknik Sipil USU merupakan orang-orang hebat yang memegang posisi penting. Dari yang jadi Kepala Penataan Pasar di Jakarta, Direktur PLN Provinsi, sampe yang jadi Gubernur.

Nah, mungkin sekian postingan saya kali ini. Selanjutnya saya akan menceritakan kisah-kisah pengalaman tak terlupakan dari para alumni tentang kehidupan mereka di kampus ini. See U

Sipil Sipil !!!

JANGAN BANGGA JADI SARJANA !!

Tags

,


TUKANG = SARJANA ?

“Ngapain sekolah tinggi-tinggi za, toh tamat kerjanya cuma ngaduk semen ama masang batu bata”

Kata-kata ini terlontar begitu aja dari mulut tetanggaku saat bertanya tentang jurusan yang aku tekuni saat ini.

Ya, hampir semua mahasiswa pernah mengalami masa – masa sulit ketika sebuah pertanyaan yang menguras otak ini dan meng-kakukan lidah ini terpanah tajam dari mulut seseorang membidik jantung kita secara perlahan-lahan.

Dilihat dari perpektif masyarakat saat ini, pendidikan masih belum menjadi suatu kebutuhan primer bahkan malah hanya sebagai kebutuhan spesial yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang spesial pula (menurut Mereka). Karena bayangan masa lalu yang menghantui pikiran seakan menyekolahkan anak-anak itu mahal biayanya, menjadikan masyarakat Indonesia lebih memilih anaknya bekerja saja, toh ntar ilmunya dapatnya dilapangan juga kan ? (anggapan sebagian besar loh, bukan seluruhnya).

Gambar

Tukang parkir liar aja gajinya 4 juta bro

Nah faktor inilah yang menjadi alasan mengapa sekolah di Indonesia itu susah, padahal orang luar sana jauh-jauh buat menuntut ilmu di Indonesia. Faktor lainnya tentang persepsi masyarakat karena melihat angka pengangguran di Indonesia yang tinggi banget. Bahkan disuatu artikel yang pernah saya baca, diantaranya para sarjana. “Bah, sarjana aja nganggur, apalagi kite-kite yang gak sekolah. Ngabisin duit aje buat sekolah, toh jadi tukang juga akhirnya”, kata seorang warga yang di lakban namanya. Bahkan orang ngemis aja lebih berpenghasilan daripada sarjana pengangguran.

Lah terus, buat apa dong ada Perguruan tinggi ama sekolah-sekolah di Negara kita kalau bukan untuk memberi ilmu ?

Nah tu dia, sebenarnya. Derajat orang berilmu itu lebih tinggi dimana-mana. Terus ilmu itu murninya didapat dari bangku sekolah. Seharusnya orang yang lebih tinggi sekolahnya pasti lebih tinggi ilmunya dan lebih loyal memberikannya. Kalau kita tidak sekolah, bangsa kita hanya akan selalu menjadi buruh. Dan kalau hanya sebagai buruh, ngapain Sukarno, Ki Hajar Dewantara, Kartini dan lain-lain capek-capek ngurusin upaya agar seluruh rakyat kita bisa menikmati sekolah. Apalagi kalau tidak untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang maju, sebagi pemimpin bukan sebagai buruh. Apalagi pada 2015 nanti, Global Trade dimana semua bangsa bisa bekerja dimana saja. Kalau masyarakat kita gak berilmu, bisa-bisa malah orang asing yang menduduki kursi jabatan tertinggi, sedangkan kita tetap sebagai buruh. Mau ? Nggak kan. So jadi, jangan bangga dulu dengan gelar sarjana yang kamu peroleh kalau kamu nggak bisa buktiin pada bangsa kita kalau dengan jadi sarjana kita lebih mampu lagi memajukan bangsa ini.

Terus, gimana dong jawab pertanyaan di pengantar tadi ? Kalau saya cukup jawab : Kalau tukang, emang kerjanya masang batu terus di gaji. Kalau saya, menggaji orang yang menggaji penggaji yang menggaji penggaji tukang tersebut :mr.green:

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,138 other followers