HOPE, MUST BE HAPPEN

Hehe, lagi coba – coba nulis cerita nih. Cerita ini di angkat dari kisah nyata salah seorang sahabat saya. Ceritanya sangat menggugah hati saya untuk membaginya kepada teman – teman pembaca. Namun karna ceritanya panjang dan waktu buat nulis cerita ini hanya sedikit, jadinya saya membagi – baginya secara bersambung ke postingan berikutnya. Hm, mohon maaf apabila ada banyak kekurangan di dalamnya, maklum masih belajar buat nulis ceritaπŸ˜€ .

( O ya, Jangan lupa bubuhkan sedikit komentar buat kritik dan sarannya ya… )

AKU……. (Bagian 1)
( Berpisah dengan keluarga )

β€œ Cuma kamulah harapan keluarga, Bang β€œ. Ya, kalimat itu terlintas dari bibir Ibuku. Mungkin sebagian orang menganggap itu hanyalah sekedar ungkapan kata biasa. Namun tidak bagiku. Kalimat yang hanya terdiri dari lima kata dan tiga puluh dua huruf itu melayang – layang di pikiranku. Bagaikan seseorang yang hanya memiliki tinggi 167cm dan berat 50kg diberikan beban seberat 4000ton truk raksasa. Berat sekali pikiranku. Rasanya ingin aku membuang beban ini jauh – jauh. Tetapi, ingatan akan kejadian yang mempermalukan keluargaku itu terngiang lagi dipikiranku.
β€œ Sudah Bang, jangan memukul duluan. Biar dia yang memukul Abang, Ibu takut Abang ditahan Polisi β€œ,teriak Ibuku menahan kepalan tanganku yang hanya tinggal sejari lagi mendarat di kepala pria itu. Aku menahan napas panjang penuh amarah. Ingin sekali aku memukulnya hingga babak belur. Mungkin bila Ibuku tidak menahanku waktu itu, pasti aku bakal terkenal dalam headline surat kabar, dengan judul artikel β€œ Seorang anak SMA memukul seorang berandalan β€œ. Mungkin aku akan difoto dengan tampang tersenyum bangga karna ku berhasil melindungi keluargaku. Tapi, ya sudahlah. Mungkin itulah awal aku berada disini sekarang.
Aku adalah seorang mahasiswa di sebuah fakultas teknik terkemuka di Sumatera. Teman – temanku tak pernah menyangka, seorang seperti aku bakal lulus ujian SNMPTN. Aku saja bahkan menganggap ini hanyalah mimpi terindahku. Bagaimana tidak, kerjaanku sewaktu masih SMA hanyalah bermain dan bermain, tak pernah belajar, kecuali bila ada ujian mendadak. Itupun aku hanya membuka buku bukan untuk menghapalnya, tetapi malah tergesa – gesa membuat contekan. β€œ Aduh, ntah mau jadi apa kau nanti Ja, dah capek kami melihat tingkahmu ”, omelan setiap guru yang udah tidak tahu lagi cara memberitahuku.
β€œ Kok bisa kau lulus Ja, padahal dulu kau yang paling malas belajar diantara kita β€œ, tanya Fahmi padaku beberapa hari sebelum aku merantau. β€œ Aku aja bingung Mi, mungkin saking jeniusnya kali. Jadi tanpa belajar aja aku bisa lulus. Hehe β€œ, jawabku menanggapi pertanyaan Fahmi yang mungkin mewakili pertanyaan semua teman – temanku. β€œ Matamu itu! Jenius apo. Wong kerjaanmu cuma bikin cepe’an tiap kali ujian. β€œ, balas Fahmi. β€œ Hehe, iya juga ya. Kali Allah sayang banget ma aku Mi. Aku kan orangnya rajin”. β€œ Rajin apo, rajin mencontek iya”, balas Fajri lagi padaku. β€œ Hehe β€œ, aku hanya bisa tertawa melihat wajahnya yang terheran – heran. Mungkin dipikirannya saat itu ada sejuta pertanyaan yang ingin ditanyakannya padaku.
β€œ Ya pokoknya ntar law kau udah sukses, jangan lupa ma kita – kita Ja. Sekali – kali ajak kami cari kerjaan diluar kota. Atau nggak law kau dah jadi kontraktor hebat, bliin aja kami rumah bertingkat ya β€œ, rayu fajri padaku. β€œ Batukmu itu Ji, kau pikir bikinnya pake daun apa β€œ.
” Hehe, kan kudengar gaji kontraktor tinggi – tinggi tu Ja, bisalah beliin aku hape kek BB pun jadi β€œ, rayu Fahmi lagi padaku yang membuatku menjadi heran melihat tanggapannya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala saja, lalu pergi meninggalkan dia.
β€œ Hari ini aku akan berangkat, jalan itu sudah di depan mata β€œ, aku mengatakan pada diriku sendiri di depan cermin. Perasaanku campur aduk. Di satu sisi aku merasa senang sekali akhirnya bisa mandiri dan tidak merepotkan orang tua lagi. Namun di satu sisi aku gundah, terpikirkan bagaimana caraku hidup nanti di luar sana. β€œ Jaya, Om Al udah datang tu mau menjemput kamu β€œ, teriak ibuku dari teras. β€œ Ya, buk β€œ.
β€œ Wah, siap tempur ni Ja. Awas loh disana orangnya rata – rata keras, beda ama orang – orang di Jambi β€œ, kata Om Al serasa ingin menakutiku. β€œ Ah, disini orangnya lebih kejam Om. Harimau aja dilawan”, balasku sekaligus mengungkit masalah harimau yang berkeliaran di daerahku saat itu. β€œ Wah, masih berkeliaran ya harimaunya. Takut nih, mesti ekstra hati – hati lepasin ayam”, balas Om Al. β€œ Ayo, cepat berangkat kalian. Udah mau sore nih, keburu pergi ntar bisnya”. β€œ Ibuk gak ngantar β€œ. β€œ Nggak nak, ntar kalau Ibuk ikut ngantar, siapa yang jaga adik adikmu. Bapak juga belum pulang ”. β€œ Ya, padahal aku ingin melihat ibuk dan Bapak mengantarku β€œ, sesalku dalam hati. β€œ Ya udah, Raja pamit ya Buk β€œ, lalu aku cium tangan Ibuk. β€œ Ya, Nak. Hati – hati ya disana. Jaga kesehatan dan rajin ibadah ya nak β€œ, jawab Ibukku. Matanya terlihat menahan air mata. Aku yakin Ibuk pasti sedih, namun ia tidak mau aku sampe melihatnya.
β€œ Oke Ja, sampai disini saja Om mengantarmu. Ingat kau kan disana untuk berjuang. Jangan sampai harapan keluarga padamu kau sia – siakan begitu saja. Buat mereka bangga padamu ya ”. β€œ Ya Om, pasti Jaya akan berjuang om dengan sepenuh jiwa Jaya. Jaya bakal buktiin bahwa Jaya bakal jadi orang sukses kelak ketika kembali kemari”. β€œ He’e, ya udah cepat cari tempat dudukmu. Bus nya udah mau berangkat tu ”. β€œ Oke om. Oh ya Om, sampaikan salam pada Ibuk dan Bapak ya. Bilang sama mereka nanti Jaya bakal kembali dan bikin mereka bahagia dan bangga. Jaya sayang sama Ibuk dan Bapak β€œ. β€œ Iya nak, Bapak dan Ibuk juga sayang sama Jaya β€œ. Tiba – tiba tangan kasar seseorang menyentuh pundakku.
( Bersambung……. )

2 thoughts on “HOPE, MUST BE HAPPEN

  1. Pingback: HOPE MUST BE HAPPEN « Reza Slash

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s