HOPE MUST BE HAPPEN

Cerita sebelumnya klik disini
AKU……. (Bagian 2)
( Berpisah dengan keluarga )

“ Bapak, Ibuk ! Kalian datang ! “, teriakku kaget. Aku benar – benar tidak menyangka mereka bakal menyempatkan diri untuk datang mengantarku. Bahkan saat itu kulihat baju Ibuk terlihat kusut. Terlihat jelas beliau pasti tergesa – gesa untuk menyusul aku sampai lupa untuk menggosok bajunya. Bahkan Bapak juga begitu, beliau ternyata tidak menyadari kalau ternyata ia salah memakai sendal. Bapak terlihat lucu dengan sendalnya yang berwarna – warni. Di salah satu sendal itu tampak tulisan namaku yang dibuat dengan spidol. Itu sengaja kubuat agar tidak tertukar dengan sendal orang lain kalau lagi solat di mesjid.

“ Mas, sendalnya beli dimana tuh. Keren banget. Hehe “, goda Om Al pada Bapak. “ Lagi tren anak muda ni Al. Tu lah makanya sering gaul ma anak – anak biar gak ketinggalan jaman dan nambah awet muda. Ni liat, udah agak hilang kan keriputku “, balas Bapak menjawab godaan Om Al sambil mengusap – usap wajahnya. “ Haha… Mas ini ada – ada saja ”, Om Al dan Ibuk hanya bisa tertawa mendengar omongan Bapak. Aku hanya bisa tersenyum. Mataku seakan ingin meneteskan air mata keharuan atas kehadiran Bapak dan Ibuk. Aku pasti akan sangat merindukan masa – masa berkumpul dengan keluarga.
“ Ayok – ayok, yang masih sedih – sedihan, makan – makanan, minum – minuman, beol – beolan, pokoknya apapun kegiatannya buruan naik. Bisnya sudah mau berangkat. Jangan sampai ada yang ketinggalan “, teriak kondektur dari pintu bis.

“ Ayo nak, lekas masuk. Bisnya sudah mau berangkat “.

“ Jaga dirimu baik – baik disana ya nak. Ingat pesan Ibuk sama Bapak, jangan lupa ibadah. Rajin belajar, jangan banyak main, jangan boros dan jangan lupa hormati dan sopan disana ya Nak “, pesan Bapak padaku. “ Baik Pak, Buk. Jaya bakal selalu mengingat pesan Ibuk dan Bapak “.

“ Ni, Bapak sama Ibuk cuma bisa memberimu bekal segini, Kau gunakan baik – baik ya Nak “, kata Ibukku sambil menyodorkan uang sebesar 500 ribu untukku. “ Iya Buk. Makasih banyak ya Buk. Ini sudah sangat berarti buat Raja “. “ Hmmm, jaga dirimu ya Nak. Hiks. Ibuk, Bapak sama adik – adikmu bakal sangat merindukan kehadiranmu di tengah – tengah kami “, ibu mencium pipiku. Air matanya tumpah. Aku benar – benar ingin menangis saat itu. Namun aku menahanannya. Kubiarkan rasa itu tertahan di hatiku.

“ Raja pamit ya Buk, Pak, Om Al “. “ Doain Raja berhasil meraih cita – cita Jaya ya “. Lalu aku pun segera masuk ke dalam bis. “ Ayok Bang, kita berangkat “, teriak kondektur pada supir. Bus pun mulai berangkat. Kulihat di luar jendela Bapak dan Ibuk juga Om Al melambaikan tangan mereka. Ibuk masih menangis. Aku hanya bisa membalas lambaian tangan mereka.

Kini jalan itu sudah di depan mata. Aku tidak akan mundur walau banyak rintangan menghadangku. Aku pasti bisa. Aku pasti bisa mandiri disana. Ya, aku pasti bisa. Kupandangi terminal bis tempatku berangkat menuju cita – citaku.
Kelak, hm bukan, pasti, ya pasti aku akan kembali lagi kemari dengan keberhasilan yang kudapat. Pasti…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s