SEDEKAH YANG TAK TAMPAK

Sudah lama gak nulis nih. Apa kabar teman – teman pembaca sekalian. Mumpung lagi bulan Ramadhan ni, saya ingin mencoba berbagi kisah kepada teman – teman tentang sedekah. Sebelumnya saya mengucapkan selamat menjalankan Ibadah Puasa bagi teman – teman yang melaksanakannya. Semoga teman – teman semua menjadi pribadi yang semakin baik.

 

SEDEKAH YANG TAK TAMPAK

Di sebuah perkampungan terpencil, hiduplah seorang saudagar yang sangat kaya. Ia memiliki hampir seluruh persawahan di kampung itu. Namun, walaupun ia terkenal kaya raya, para penduduk tidak pernah menyukai saudagar itu. Karna menurut mereka saudagar itu sangat pelit dan sangat tamak. Pernah suatu ketika ada seorang pengemis meminta – minta padanya, namun saudagar itu malah mengusir pengemis itu. Malah pembantunya yang mengejar kembali si pengemis dan memberikan bantuan pada pengemis itu.

Seluruh warga di perkampungan itu sangat membenci saudagar itu. Pasalnya, setiap mereka meminta bantuan dana untuk keperluan kampung ataupun untuk pembangunan mesjid, saudagar itu selalu mencueki mereka. Bagi mereka hanya si pembantu saudagar itu yang baik hati membantu mereka.

Suatu ketika si saudagar menderita sakit keras. Namun tidak ada seorang warga pun yang datang menjenguknya. Hanya sanak keluarganya yang datang menjenguk. Pembantu setianya telah berulang kali datang menemui warga untuk meminta kesukarelaan warga agar dapat menjenguk si saudagar. Namun warga selalu menolak keinginannya.

” Huh, ngapain menjenguk orang setamak dan sepelit dia. Dia saja tidak pernah peduli dengan keadaan warga sini “, gerutu seorang warga.

” Ya, betul tu. Bahkan ketika aku datang meminta pinjaman untuk berobat istriku, aku malah dicuekinya. Cuma pembantunya yang peduli sama keadaan kita”, gerutu warga lain.

Pembantu saudagar itu hanya bisa diam mendengar pernyataan dan penolakan dari warga tentang majikannya. Matanya tampak mengeluarkan air mata. Sepertinya ia menyimpan sesuatu dan ingin sekali disampaikannya kepada para warga. Akhirnya ia pun pulang dengan tangan hampa.

Beberapa hari kemudian, saudagar kaya itu meninggal dunia. Namun tetap tak ada satupun warga yang datang untuk menyalatkan dan mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya.  Hanya si pembantu setia dan beberapa sanak keluarga saudagar itu yang hadir.

Ketika akan dimakamkan, tiba- tiba warga datang berbondong – bonduong. Mereka terlihat sangat mensyukuri dan lega dengan kematian si saudagar.

” Huh, syukur dia sudah mati. Akhirnya kampung ini bersih dari orang tamak seperti dia “, teriak seorang warga.

” Ia, semoga saja dia disiksa di alam kubur sana ! “

Sang pembantu setianya terlihat sangat sedih mendengar pernyataan warga. Ia seakan tidak bisa menahan lagi rahasia yang terpendam selama ini. Sebuah rahasia tentang majikannya yang para warga tidak mengetahuinya.

” Astagfirullah, tidakkah kalian sadar apa yang telah kalian lakukan pada orang baik seperti beliau ! “, teriak si pembantu.

” Apa maksud anda tuan ? Mengapa anda sampai mengatakan si tamak itu orang baik.  Bukankah ia adalah orang yang sangat jahat karna tidak pernah membantu orang lain ? “, sahut seorang warga.

” Tidakkah kalian tahu, bahwa selama ini beliaulah yang telah membantu kalian semua, bukan saya “.

” Apa maksud Tuan, kami sama sekali tidak mengerti ? Bukankah cuma tuan seorang yang membantu kami .”

” Bukan ! Ketahuilah uang yang saya berikan untuk membantu kalian semua itu diberikan oleh beliau. Beliau memang tampak pelit ketika kalian datang ke rumahnya untuk meminta sumbangan. Namun ketika kalian pergi dari rumahnya, beliau menyuruh saya untuk mengejar kalian dan memberi uang dari beliau. Beliau hanya tak ingin orang lain tahu akan kebaikannya. Menurut beliau cukup Allah dan beliau yang tahu akan hal itu “.

” Astagfirullah ! Apa yang telah kami lakukan selama ini. Selama ini kami telah salah sangka terhadap seseorang sebaik beliau. Ya Allah ampuni kami ya Allah karna kami telah berbuat fitnah dan suuzon. Berikan beliau tempat terbaik disisiMu ya Allah”, sesal para warga.

Lalu pemakaman itu berubah menjadi penuh kesedihan. Para warga menangisi seseorang yang selama ini mereka zolimi.

Akhirnya semua warga kampung itu berbondong – bondong membantu proses pemakaman si saudagar yang baik hati itu.

Hikmah dibalik kisah ini yaitu janganlah berbuat berlebih – lebihan ketika kita melakukan sedekah kepada orang lain. Seperti mengatakan pada semua orang – orang jumlah materi yang telah kita sedekahkan, karna sesungguhnya Allah membenci orang yang berbuat riya dalam beribadah. Kiasannya seperti bersedekah dengan ikhlas hati dan tanpa mengumbar perbuatan. Cukup Allah dan kita sendiri saja yang tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s