KETIKA PERASAAN ITU DATANG….. Bag. 3

Senyuman itu

Tatapan itu

Kata – kata itu

Membuatku rindu padamu

Sekian lama cinta ini terpendam

Kini saatnya kuungkapkan..

Tunggu aku…

Di dalam mobil, di depan sebuah rumah mewah.

“ Kamu yakin ini rumahnya ? “, tanya Alif pada seorang pria disampingnya. “ Iya Pak, istri saya bekerja disini. Ibu Aisyah juga yang membiayai sekolah anak saya. Makanya saya kenal dengan beliau. “, jawab pria itu.

“ Mari Pak kita masuk “.

“ Wah Wak Ujang, dilarang seorang seorang pria berada di dalam rumah seorang wanita yang bukan muhrimnya tanpa didampingi mahram wanita tersebut “, jawab Alif.

“ Haha, Bapak memang selalu menjaga diri Bapak. Tenang Pak, Ibu Aisyah tinggal bersama dengan orangtuanya. Dan jam segini mereka biasanya berkumpul “, jawab Wak Ujang meyakinkan Alif.

“ Hm, baiklah kalau begitu. Bismillah “, jawab alif seraya membuka pintu mobil.

“ Assalammu’alaikum “.

“ Wa’alaikumsalam “, jawab seseorang membalas salam. Lalu pintu rumah pun terbuka. Seorang wanita dengan pakaian muslim berjilbab keluar dari balik pintu.

“ Alif ! “, kata wanita itu.

“ Apa kabar Aisyah ? “, jawab Alif tersenyum. “ Alhamdulillah, baik. Bagaimana anta bisa tahu rumah ana ? “, tanya Aisyah pada Alif.

“ Siapa dulu dong buk penunjuk jalannya, Wak Ujang “, jawab pria itu dengan lagak menunjuk dirinya.

“ Siapa Aisyah ? “, tiba – tiba terdengar suara dari dalam rumah. “ Alif Ayah. Dia teman Aisyah waktu masih di organisasi dulu “, jawab Aisyah.

Lalu tiba – tiba seorang pria keluar dari dalam rumah. Pria itu gemuk, dengan kumisnya yang lebat, dan janggutnya yang panjang. Di atas kepalanya ada lobe kecil berwarna putih. Alif kaget. Di dalam hatinya ada perasaan takut. Baru kali ini ia menemui orang tua Aisyah. Dalam pikirannya saat ini ada keraguan, apakah Ayah Aisyah bakal menerima kehadirannya yang tiba – tiba ini.

“ As..salammu’alaikum om “, jawab Alif agak terbata – bata. “ Wa’alaikumsalam. Jangan panggil saya om karena saya bukan om mu dan saya juga terlalu tua untuk dipanggil begitu. Cukup panggil saya Bapak saja “, jawab lelaki itu.

“ Maaf om, eh Bapak maksud saya “, jawab Alif kagok. Pak Ujang dan Aisyah hanya bisa tersenyum dan menahan tawa melihat keadaan Alif.

“ Ayo, mari masuk. Tidak enak dilihat tetangga kalau kita hanya berdiri diluar saja. Aisyah, cepat sediakan minum untuk mereka “, perintah lelaki itu. “ Baik Ayah. Mari Alif, silahkan masuk. “, kata Aisyah pada Alif.

Lalu Alif, Pak Ujang segera masuk. Mereka pun duduk dikursi tamu, setelah dipersilahkan Ayah Aisyah. Sementara itu Aisyah menyiapkan minuman untuk mereka.

“ Sebenarnya, apa tujuan anda kemari “, tanya Ayah Aisyah pada Alif. Mendapat pertanyaan tersebut, Alif sedikit kaget. Badannya bergetar.

“ Ya Allah, bila ini saatnya aku melamar Aisyah, maka mantapkanlah jiwaku dan lancarkanlah lisanku agar aku bisa menyatakan niatku ini pada orang tua Aisyah “, gumam Alif dalam hati.

“ Sebenarnya kedatangan saya disini.. “. “ Untuk melamar adinda Aisyah tuan “, tiba – tiba Pak Ujang memotong pembicaraan Alif. “ Pak… “, lirik Alif pada Pak Ujang.

” Tenang Pak “, Pak Ujang tersenyum kecil pada Alif.

“ Hm, melamar Aisyah ? “, tanya Ayah Aisyah. “ Iya Pak “, jawab Alif.

“ Asal anda tahu, Aisyah adalah anak perempuan satu – satunya yang saya miliki. Dan Aisyah adalah putri semata wayang yang saya sayangi. Jadi, tidak mungkin begitu mudah anak saya ini dilamar orang, yang bahkan belum saya kenal. Ada kriteria tersendiri untuk menjadi suami Aisyah, karena saya tidak ingin asal pilih sebagai orang tua demi kebahagiaan putrinya “, jawab Ayah Aisyah pada Alif.

“ Seperti apakah kriteria yang Bapak inginkan ? “, tanya Alif.

“ Ia haruslah seorang lelaki yang bisa menjamin istrinya untuk hidup bahagia. Ia juga haruslah lelaki yang kaya, agar anak saya tidak susah. Ia harus lelaki yang pintar, agar keturunannya kelak pintar juga. Ia haruslah lelaki yang memiliki jabatan tinggi, agar keluarganya dapat hidup makmur. Apakah ada salah satu kriteria yang saya sebutkan tadi  termasuk ke dalam kriteria yang anda miliki ?”, tanya Ayah Aisyah pada Alif.

Alif berpikir sejenak. Ia membayangkan posisi yang dimilikinya saat ini. Saat ini, Alif hanyalah seorang tamatan S1 Teknik Mesin yang menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan yang dibangunnya sendiri. Ia pun belum tentu dapat menjamin kebahagiaan Aisyah. Kalau dibilang, Alif hanyalah tamatan S1 yang berbanding terbalik dengan Aisyah yang sekarang sudah memiliki gelar sarjana S2. Hatinya kembali bimbang.

“ Ya Allah. Apa yang harus hamba jawab ? Apa yang harus hamba lakukan ? Bimbinglah hamba Ya Allah. “, gumam Alif dalam hati.

 Apakah yang akan dijawab Alif ?

Apakah Alif dapat melamar Aisyah ?

Bersambung………………….

12 thoughts on “KETIKA PERASAAN ITU DATANG….. Bag. 3

  1. Ayooo Aisyah … terimalah cinta Alif … Alif kan juga soleh hehe😀
    Pas kuliah saja sudah hafal satu juz, apalagi sekarang *betul gak bang Reza?* hehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s