[CATATANKU] BELAJAR DARI MOTIVATOR CILIK

Disaat aku bersedih

Merenungi nasibku yang malang

Ada tawa diluar sana

Mengabaikan segala kesedihan

Wah, ternyata dah lama banget gak ngisi blog ini. Maklum teman – teman, tugas kuliah menagih janji pada saya buat dikerjakan. Hehe

Nah, kali ini saya mau share sesuatu nih. Awalnya bingung sih, mau buat tulisan ini di label “Muhasabah” atau di “Catatanku”, tapi gak apa – apa deh, yang penting semoga tulisan kali ini bisa bermanfaat.

Beberapa hari yang lalu nih, saya ikut suatu aksi untuk penggalangan dana buat Palestina. Teman – teman tahu kan konflik yang sedang terjadi di Palestina ? Nah, aksi yang saya lakukan ini bertujuan mengumpulkan sejumlah dana untuk membantu masyarakat Palestina, ya moga – moga bisa jadi Jihad saya walaupun tidak langsung terjun ke Palestinanya🙂

Nah, ngomong – ngomong bukan tentang Palestinanya yang mau saya share kali ini, tapi tentang suatu renungan yang saya dapat ketika sedang menjalankan aksi.

Kebetulan hari itu ada suatu event Mukernas suatu partai politik, jadinya kesempatan yang baik buat menggalang dana. Saya pun mencoba melihat tempat yang tepat buat mencari orang – orang yang mau menyisihkan sedikit rejekinya. Akhirnya saya pilih persimpangan lampu merah, yang saya rasa saat itu adalah tempat yang paling strategis. Sampainya di persimpangan lampu merah, saya pun mulai menjalankan aksi saya. Mencoba mendatangi setiap orang dan kendaraan yang berhenti menunggu si lampu merah berubah jadi hijau.

But, ternyata tidak sesuai perkiraan saya sih. Hasilnya nihil, tak ada satupun yang menggubris aksi saya. Ya sudah deh apa boleh buat, lagipula kan tidak ada unsur pemaksaan dalam hal memberi. Ketika lampu hijau, saya pun duduk untuk mengistirahatkan diri.

Nah, lagi asyik – asyiknya duduk, datanglah dua orang anak membawa koran, bertanya pada saya. “ Abang lagi ngapain ?”, tanya salah seorang anak itu. “ Lagi mencoba menggalang dana buat Palestina dek “, jawabku. “Oh,,,”, mereka pun tersenyum. “ Adek tahu nggak Palestina ?”, tanyaku balik. “ Tahu dong, yang jauh tu kan bang. Naik pesawat kalo mau kesana “, jawab salah seorang anak dengan polosnya. “ Idak tau, tapi naik Bus dulu, baru habis tu naik angkot ama taksi. Baru naik pesawat telbang “, jawab yang satunya lagi membuat saya tertawa melihat tingkah mereka.

anak kecil

Mereka adalah anak – anak penjajal koran. Usia mereka mungkin sekitar umur 5 – 7 tahun. Satu hal yang saya salut dengan mereka adalah, keceriaan. Yup, selalu tampak raut muka polos keceriaan anak – anak di wajah mereka. Padahal menurut saya mereka adalah anak – anak yang kurang beruntung. Disaat anak – anak seusia mereka bersekolah, mereka hanya dapat bermain di pinggir jalan, menjajakan koran kepada para pembaca berita untuk sekedar mencari uang makan dan membantu orang tuanya. Disaat pemerintah dan rakyat berselisih tentang harga BBM, mereka masih tersenyum bermain – main menunggu sang lampu merah berubah hijau.

“ Ayo bang, dah hijau tu lampunya. Mobilnya dah banyak “, kata seorang anak kecil mengajak saya. Mereka pun segera mendatangi setiap kendaraan dan menjajakan koran. Ketika lampu menjadi hijau, mereka kembali bermain dengan pipa drainase di pinggir jalan. Dengan seribu hayalan mereka, mereka tertawa, tersenyum, dan ceria.

Jujur, saya sebenarnya sangat iri dengan kehidupan mereka. Ketika saya selalu mengeluh dengan tugas – tugas berat yang saya emban, mereka sama sekali tetap tersenyum dengan pekerjaan mereka yang mungkin tidak terlalu banyak memberi hasil dibandingkan dengan pekerjaan saya.

anak penjajal koran

Kenapa saya tidak bisa seperti mereka. Bukankah saya harusnya lebih kuat dibandingkan mereka yang masih kecil. Kenapa saya harus mengeluh, mereka saja bisa menikmati pekerjaan mereka.

Alhamdulillah, sungguh luar biasa apa yang saya dapat hari itu. Sebuah pelajaran hidup dari dua orang anak pejajal koran. Mereka mengajarkan saya semangat untuk selalu bersyukur dan menikmati pekerjaan yang didapat. Ya, rejeki itu sudah diatur sama Allah. Mungkin saat ini dapatnya sedikit, dengan usaha yang begitu berat. Namun, suatu saat hal yang sedikit itu akan menjadi sesuatu yang banyak, begitu banyak hingga kita tidak menyadari bahwa nikmat yang diberikan Allah itu melimpah ruah.

Super sekali para motivator cilik, terimakasih buat pelajaran hidupnya🙂

DUA ORANG ANAK PENJAJAL KORAN

Dua orang anak penjajal koran

Mencoba mengais rejeki dari beberapa lembar kertas

Menawarkan dengan penuh semangat

Kadang terbayar, kadang hanya senyum yang didapat

Namun terkadang makian menusuk hati mereka

Tapi keceriaan menepis segala keburukan

Disaat sang dewa jalanan berubah hijau

Ada taman bermain sederhana menuggu mereka

Di tepian jalan, di tepian harapan

Dua orang anak penjajal koran

Semangat hidup kalian, dan keceriaan masa kecil

Tetaplah selalu jadi suatu harta yang berharga

Untuk dibagikan kepada mereka yang selalu berputus asa

14 thoughts on “[CATATANKU] BELAJAR DARI MOTIVATOR CILIK

  1. saya juga jadi belajar dari 2 anak itu bang

    saya terlalu banyak mengeluh banyak dan sangat banyak sampai melupakan besarnya nikmat yang saya terima😥

    saya juga kadang menjalani kehidupan tanpa keceriaan… terima kasih bang reza d(^o^”)

    • sama – sama mas.
      Bener tu mas, saya juga sering mengeluhkan masalah yang saya hadapi. tapi anak – anak itu mengajari saya bagaimana caranya menjadikan masalah itu sebagai sebuah keceriaan😀

  2. sedikit share quotes ttg kerja keras:

    “It’s hard to beat a person who never gives up.”
    ― Babe Ruth

    “Genius is 1% talent and 99% percent hard work…”
    ― Albert Einstein

    “There is no substitute for hard work.”
    ― Thomas A. Edison

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s