MENJADI SEORANG ENGINEER, Antara tantangan dan cobaan

Setelah dua tahun melalui masa – masa kelam kuliah di teknik Sipil, ternyata baru kemarin saya sadar ternyata selama ini saya cocok dalam dunia Engineer.

Ya, soalnya waktu dulu SD, cita – cita saya pingin jadi astronot kalau nggak jadi Programmer komputer, karna saya benci banget ama yang namanya matematika, walaupun dalam astronomi ada hitung – hitungannya, tapi lebih dominan teori.
Nah, pas daftar SNMPTN, ntah ada angin apa saya memilih jurusan Teknik Sipil USU sebagai pilihan pertama saya, baru disusul Teknik Informatika USU. Mungkin karena dulu mikirnya Teknik Sipil pasti ntar kerjanya jadi Pegawai Negeri Sipil (oalah, polosnya saya. Sekarang baru sadar, Teknik Sipil tu beda ama Pegawai Negeri Sipil, walaupun sama – sama ada sipilnya. Apalagi ama Sipilis, loh…)

Terus pas lulus dan selesai OSPEK-lah yang mengerikan, ternyata saya baru sadar, bahwa saya memasuki jurusan yang selama ini saya takuti dan hindari. Ternyata Teknik Sipil itu kerjanya kebanyakan hitung – menghitung, dan alhasil akibat itu nilai saya anjlok selama 2 semester,,😦

Sempat drop berkepanjangan sih, sampai pada suatu hari di suatu taman yang indah dipenuhi bunga – bunga dan tumpukan tulangan besi yang tak terpakai (lah kok nyasar nih tulisan), saya baru ngerti apa itu Teknik Sipil. Ternyata orang – orang di Teknik Sipil adalah mereka – mereka yang bertugas membangun negara lewat fasilitas dan infrastruktur. Sama seperti halnya orang – orang di Teknik Kimia, Elektro, Lingkungan, Industri, Pertambangan dan lainnya.

Kalau kata dosen saya, Engineer adalah pondasinya dari perkembangan suatu negara. Tanpa engineer, tidak akan ada namanya realisasi pembangunan.

Wah, sedikit demi sedikit saya akhirnya menyukai menjadi seorang engineer. Apalagi prospek gaji engineer yang besar dan bisa kerja dimana – mana.

Tapi dibalik tu semua, ternyata ada tanggung jawab besar dari seorang engineer. Seorang engineer dituntut keprofesionalannya dalam bekerja. Engineer harus bisa memecahkan dan mencari solusi dari masalah yang dihadapi. Mereka harus dituntut kreatif, inovatif dan berfikir keras. Karena itu, seorang engineer harus tahan terhadap segala tekanan. Dan itu sudah dilatih sejak engineer duduk dibangku perkuliahan.

Ya, apapun untung dan tidaknya menjadi seorang engineer, yang penting saya sekarang mulai mencintai tuntutan menjadi seorang engineer. Dan ternya benar, bahwa Allah itu Maha Pembolak – balik hati manusia. Dulunya saya benci menghitung, sekarang saya kangen menghitung (oalah… :D)

Hehe, yang penting syukuri keadaan dirimu kini. Perbaiki kekurangannya. Dan berbagilah, itu kuncinya biar bisa menikmati problema hidup.

Kini saya bangga jadi seorang engineer (si tukang hitung dan perekayasa), karena ada pepatah mengatakan “Sarjana Teknik, Idaman para Mertua”.. hehe (narsis dikit)…

9 thoughts on “MENJADI SEORANG ENGINEER, Antara tantangan dan cobaan

  1. wah menarik sekali pengalamnanya😀
    mirip – mirip, kalau ane waktu kecil suka sekali yg namanya terowongan, trus sempet ingin jadi pilot dan it programmer, dan memilih 2 jurusana yaitu komputer, dan sipil, alhamdulillah kecemplung di sipil, meski harus banyak belajar, belajar tanggungjawab belajar kontrol emosi belajar lainnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s