[CERPEN] BIARKAN CINTA INI JADI RAHASIAKU

Assalammu’alaikum

Lama gak nulis cerpen nih teman – teman. Kali ini saya mencoba menulis sebuah kisah, tentang seorang pemuda yang sedang dilanda asmara. Nah lika – liku pun ia hadapi demi mendapatka gadis impiannya. Terus bagaimana kelanjutannya, langsung di baca aja deh. Semoga kali ini ceritanya lebih baik dari sebelumnya ya. Selamat menbaca🙂

 

BIARKAN CINTA ITU JADI RAHASIAKU

“Ah, cantiknya dia. Andai aku memilikinya”, gumamku ketika membayangkan Alisa saat ia sedang melintas di depanku.

“Andi, Andi,,, hey Andi”, panggilan itu tiba – tiba membuyarkan lamunanku. Kini di hadapanku berdiri seorang wanita. Parasnya cantik, dengan senyuman manis yang selalu menghiasi bibirnya. Dandanannya sopan dengan jilbab putih dan pakaian lebar yang membalut dirinya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

“Alisa”, jawabku yang kaget ternyata Alisa sudah berada di hadapanku. “Ngelamun aja. Ini suratnya, tinggal ditandatangani. Bawa pena kan ?”, kata Alisa sambil menyerahkan secarik kertas untuk kutandatangani.

“Hehe…”, senyumku. “Sudah ku tebak, pasti gak bawa pena. Dasar mahasiswa jaman sekarang. Andi, Andi jadi ketua kok malas banget sih bawa pena. Kalau lagi dalam keadaan genting disuruh tanda tangan gimana”, jawab Alisa sambil mengambil pena dari ranselnya. Terlihat ia  sedikit kesal padaku.

“Kan ada sekretaris yang selalu ada buat ketua”, candaku padanya. “Ya, walaupun aku sekretaris gak selamanya aku berada di dekatmu Di. Kalau aku gak ada gimana. Siapa yang nyediain pena buatmu”, jawab Alisa balik.

“Kalau kamu gak ada, tentu hati ini merindukanmu Alisa. Aku rela tidak membawa pena setiap hari, asalkan kamu selalu menyediakan pena buatku. Karena kalau kamu jauh, pasti hati ini akan selalu gundah”, gumamku dalam hati.

“Ini suratnya Bu Sekretaris. Oh ya, jangan lupa ingatkan semua ketua departemen untuk rapat lepas Jum’at nanti ya. Ada pulsa kan? Apa perlu diisiin nih”, tanyaku seraya bercanda sambil memegang dompet.

“Wee, emang saya wanita kurang modal apa. Kan ada SMS gratisan. Oke deh, kalau gitu aku berangkat ke kantor Dekan dulu ya Di”, jawab Alisa. “Oke, semoga sukses. Insya Allah pasti langsung di terima usulan kita”, kataku menyemangati Alisa.

                “Aamiin. See U Di”, jawab Alisa yang lalu pergi. Aku hanya bisa memandanginya, sambil tersenyum sendiri.

“Aku hanya ingin bilang, kalau aku….”. Kreek, kurobek kembali secarik kertas dari buku itu. “Waduh, ternyata susah ya menulis surat cinta. Padahal dulu waktu menggombalin cewek yang tidak kucintai begitu mudah rasanya. Apa karena aku sudah lama nggak pacaran ya”, gumamku dalam hati mencoba menulis surat kembali. Surat cinta. Ya, aku ingin mengungkapkan perasaanku pada Alisa. Sebuah surat yang menyatakan isi hatiku padanya.

Alisa, wanita yang kukagumi. Orangnya simple, tidak pernah neko – neko dalam bersahabat. Ia juga seorang wanita yang selalu menjaga amanah. Setiap pekerjaan yang diamanahkan padanya ia laksanakan dengan sungguh – sungguh. Ia juga wanita yang selalu bersemangat dan mengayomi teman – teman yang berputus asa. Ia pintar, baik, dan taat ibadah. Sholatnya nggak pernah tinggal. Shaum sunnah ia jaga. Bahkan lebih rajin dibandingkan diriku. Hm, ia wanita yang sempurna. Dan karena hal itu aku mengaguminya. Hubungan kami semakin dekat setelah aku di tempatkan sebagai ketua, dan ia sebagai sekretarisku. “Wah ini yang namanya jodoh”, pikirku.

“Hei Alisa, katanya Andini bakal nikah tahun ini loh”, kata seorang wanita pada Alisa yang saat itu kami baru saja selesai rapat umum. “Benarkah, Barakallohu. Alhamdulillah, siapa lelaki yang berhasil mendapatkan hatinya Ti ?”, tanya Alisa.

“Azwar. Ketua LDK Fakultas Teknik. Subhanalloh ya. Mereka dipertemukan di usia muda dan masih berstatus mahasiswa. Untung aja mas Azwar sudah bekerja”, jawab Atika.

“Wah, indahnya. Semoga kita cepat nyusul ya. Ya, mungkin setelah bekerja. Hehe”, tawa Alisa.

“Amin. Hm, Alisa, seperti apa pria impianmu yang bakal menjadi imammu kelak?”, tanya Atika pada Alisa. Saat itu aku mendengar baik – baik pembicaraan mereka. “Ya, Allah kutahu ini dosa. Tapi ini adalah kesempatanku”, gumamku sambil mencoba memasang pendengaranku baik – baik.

“Seperti apa ya. Mungkin lelaki yang sederhana, tegas, manis, pintar, cerdas, dan taat beribadah. Dan satu lagi pintar memasak kali ya, jadi bisa mengajariku memasak. Hehe”, jawab Alisa.

“Pintar memasak, tegas. Aku bisa memenuhinya”, pikirku setelah mendengar kriteria pria impian Alisa. “Alisa, tunggu aku. Aku pasti bisa jadi pria impianmu”.

Sejak saat itu, aku belajar memasak. Berbagai masakan ku coba. Dan untuk menguji rasanya, teman – teman kos kujadikan kelinci percobaan. Dan hasilnya luar biasa, 4 dari 5 penghuni kosku nyaris masuk rumah sakit gara – gara masakanku. Entah apa yang salah, apa perut mereka yang tidak tahu masakan enak, atau masakanku yang tidak enak. Lalu di organisasi aku mencoba memimpin secara tegas. Setiap anggota yang kurang bertanggung jawab aku berikan teguran, lalu kuayomi mereka semua, kuberi semangat agar mereka bisa melaksanakan tugasnya. Aku rasa itu sudah bisa menunjukkan ketegasanku pada Alisa.

Dan tiba – tiba suatu hari…

“Assalammu’alaikum Alisa”, SMS ku pada Alisa pada suatu malam. Tidak berapa lama HPku pun berdering.

–          Wa’alaikumsalam, knp ktua?

–          Bgaimana surat dari DEKAN, sdh ditanggapi? (kedokku berusaha mencari celah)

–          Alhamdulillah sudah. Mgkn bbrp hari lg kita bkal audiensi

–          Syukurlah. Skretarisku mmg hbat🙂

–          Sm2 ketua. Smw sdh bkrja keras kok. Bkn saya sja

–          Iya sih. Alisa trimakasih bwt smw krja krasnya ya. Tnp mu aku tdak bs mngerjakan apa2. Hehe

Aku mencoba menunggu balasan dari Alisa. Lama sekali sampai akhirnya aku tertidur.

Esoknya selepas Subuh, aku mencoba memeriksa Inboxku, berharap ada balasan dari Alisa. Ternyata nihil. Padahal aku berharap ia membalas kembali.

Sudah seminggu aku tidak melihat Alisa. Ya, ia pulang ke kampungnya selama hari libur. Rasanya sepi sekali. Ku coba mengirim SMS padanya, namun SMS ku tidak pernah sampai. “Kemanakah dirimu Alisa? Padahal aku hanya ingin tahu kabarmu saja. Itu sudah membuatku tenang”, gumamku.

Aku berjalan menyusuri jalanan. Aku biarkan kakiku melangkah entah kemana ia akan membawaku. Saat itu pikiranku begitu gundah. Sedih, bimbang, sakit, dan berbagai perasaan perih yang kurasakan. Sampai aku tersadar suara azan menyadarkanku. Aku pun berhenti ke sebuah mesjid untuk melaksanakan sholat. Sholatku kali ini begitu berbeda. Begitu khusyuk, hingga tak terasa aku meneteskan air mata ketika melantunkan doa – doa pada-Nya.

Selesai sholat aku coba duduk sebentar. Saat itu sedang berlangsung tausyiah yang di bawakan oleh seorang ustad muda. Judulnya “Mencintai atau di cintai”.

Kudengarkan baik – baik  apa yang disampaikan sang ustad.

“Para pemuda yang di rahmati Allah, pasti diantara kita pernah merasakan yang namanya cinta. Cinta yang akhirnya memiliki rasa ingin mendapatkan cinta itu seutuhnya. Ingin melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Sampai raga ini berjanji kalau akan menyesal apabila tidak mendapatkannya”.

Aku pun mengangguk. Saat itu aku tersadar dengan apa yang telah kurasakan.

“Tidak ada yang salah dengan yang namanya cinta. Cinta itu hakikat setiap manusia. Tidak ada larangan untuk mencintai. Tapi pernahkah kita sadar kalau saat kita merasakan cinta pada seseorang, kita melupakan cinta kita pada Allah”.

“Cintaku pada Allah”, aku tersentak mendengar hal itu.

“Ya, cinta kita pada Allah. Saat kita menginginkan orang tersebut, pernahkah terlintas di pikiran kita kapan kita mengaharapkan cinta dari Allah? Cinta dari Allah yang selalu memberikan nikmat pada kita? Cinta dariNya yang selalu menjaga kita? Cinta dariNya yang selalu ada untuk kita? Pernahkah terlintas di pikiran saudara – saudara”

Aku tersadar. Di saat aku mengharapkan Alisa, aku lupa cintaku pada Allah. Bukankah Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, tetapi hamba-Nya yang meninggalkan ia karena sesuatu. Kenapa aku harus takut kehilangan Alisa, kalau Allah sudah menjanjikan jodoh yang terbaik untukku. Kenapa aku harus berusaha mendapatkannya, kalau belum tentu ia akan memiliki perasaan yang sama padaku. Bisa saja karena aku terlalu berharap, hati ini akan sakit menerima kenyataan yang ada.

“Astagfirulloh. Ya Allah, terimakasih Engkau telah mengingatkan hamba Ya Allah. Duniaku tak lebih hanya sebuah tempat singgah. Kenapa aku harus khawatir kalau segala urusan telah Engkau tetapkan untukku Ya Allah. Engkau Yang Maha Mengetahui, Tiada Tuhan selain Engkau Ya Allah”, gumamku dalam hati.

Air mataku mengalir. Selama ini aku berada di jalur yang salah. Aku terlalu takut kehilangan Alisa, padahal aku tidak pernah tahu isi hati Alisa terhadapku. Allah telah menjaga hamba-Nya. KIni pikiranku mulai cerah. Aku sadar, dan menyerahkan segala urusanku pada Allah. Kini aku percaya Allah akan memberikan yang terbaik untukku.

Hari liburan pun berakhir. Kini aku bertemu kembali dengan Alisa. Tapi dengan perasaan berbeda. Tak lagi diriku berusaha mengungkapkan cinta padanya.

“Hai Andi, ayo kawan – kawan dah pada nunggu rapat tu”, seru Alisa padaku yang sedang duduk memandangi langit.

“Baik buk. Bentar lagi saya kesana”, jawabku seraya membereskan buku – bukuku yang berserakan di kursi taman.

“Cepat ya ketua. Jangan lama. Kasihan mereka dah pada gak sabar nunggu kabar baik dari kita”, kata Alisa yang lalu pergi meninggalkanku.

Aku pun kini menatapnya kembali dari jauh.

Alisa…

Engkau wanita yang sempurna

Semoga Allah mempertemukanmu dengan lelaki yang sempurna pula

Terimakasih karena pernah membuat jatuh cinta

Terimakasih karena telah memotivasi diriku

Tetapi Allah lebih sayang padaku

Sehingga cinta ini tidak akan kuberikan pada siapa pun

Kecuali Allah

Suatu saat, bila Allah mempertemukanku dengan mu sebagai jodoh

Akan kutuntun dirimu untuk mencintai Allah bersama – sama

Tapi bila tidak, berbahagialah

Allah akan memberikan yang terbaik untukmu

Cinta yang pernah kurasakan padamu

Biarlah ini jadi rahasiaku

Bersemangatlah Alisa

Jadilah wanita yang solehah dan tangguh

 

Gumamku, lalu aku pun pergi menuju tempat dimana harusnya aku berada, dengan perasaan yang kini lebih lega.

 

-Sekian-

Cerita bersambung yang pertama saya buat.
Kisah cinta Ali dan Aisyah di

KETIKA PERASAAN ITU DATANG 1

KETIKA PERASAAN ITU DATANG 2

KETIKA PERASAAN ITU DATANG 3

KETIKA PERASAAN ITU DATANG 4 (tamat)

 

2 thoughts on “[CERPEN] BIARKAN CINTA INI JADI RAHASIAKU

  1. Waaah, sayang donk, ya. Padahal udah sempat jadi stalker segala, tapi akhirnya gak ada usaha apa-apa … entar Alisa jadi milik yang lain kalo gitu😐

    Selamat menjalankan shaum, Reza🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s