[OPINI] CURHATAN MAHASISWA GALAU

Saat harus memilih, menjadi mahasiswa dengan IP yang luar biasa tapi tidak bisa memberikan sesuatu untuk bangsa, atau menjadi mahasiswa dengan IP standar tetapi punya andil dalam perubahan bangsa. Kira – kira sebagai mahasiswa yang mana yang bakal kawan – kawan pilih ?

Jawabannya pasti kebanyakan memilih punya IP luar biasa dan punya andil dalam perubahan bangsa, ya kan🙂

Haha, sekali lagi saya di buat galau nih dengan yang namanya nilai akademik. Tahun ini dah ketiga kalinya saya dapat nilai yang di bawah standar. Alasannya sama, ada karena malas, karena dosen, karena tumpukan tugas yang aneh – aneh, dan lain – lainnya. Gara – gara perkuliahan yang rada gak jelas, saya lebih banyak berkecimpung ke organisasi jadinya. Soalnya di organisasi saya bebas berfikir dan mengeluarkan pendapat saya, beda ketika berada di kampus yang notabene mahasiswa harus ikut aturan dosen dan kampus. Waduh, kapan berkembangnya kalau gini -_-.

Hm, yang jadi pertanyaan, kenapa di Indonesia yang lebih berkembang itu cenderung Universitas yang berada di dekat ibukota, sedangkan yang lain seperti di pulau Sumatera, Kalimantan, bahkan Papua sekalipun cenderung memiliki kualitas standar. Ya mungkin ini hanya sebuah asumsi, karena memang tidak semuanya berkualitas standar, ada beberapa yang memiliki kemajuan yang sangat pesat di atas standar saat ini. Tapi kenapa semua harus berbeda, kenapa nggak disama ratakan saja kualitas pendidikan di setiap daerah ? Apa karena otonominya ? Jadi setiap daerah harus mengembangkan sendiri kualitas pendidikannya ?

Andaikan, ini hanya berandaikan saja sih. Kalau semua daerah punya kualitas atau standar pendidikan yang sama, pasti Indonesia bakal maju. Misalnya, ada universitas di Jawa yang menyediakan fasilitas penelitian yang lengkap untuk mahasiswanya agar dapat mengembangkan penelitian mereka, dan di pulau Sumatera juga begitu, fasilitasnya sama lengkapnya dengan di Jawa, pasti deh tak ada rasa enggan di hati setiap mahasiswa untuk dapat mengembangkan dan menuangkan ide mereka. Tapi sekali lagi itu hanya andai saja.

Soalnya banyak teman – teman saya yang cenderung berpatokan jauh. Lebih enak kuliah di Jawa, kualitas pendidikannya sangat terbaik disana. Fasilitas lengkap, dan mahasiswanya rata – rata berprestasi. Nah, ketika semua pada berpatokan ke pulau Jawa, pulau – pulau seperti Sumatera, Kalimantan, Papua ditinggalkan, dan otomatis Universitasnya hanya menyediakan fasilitas “seadanya” untuk mereka – mereka yang tidak punya kesempatan kuliah di Pulau Jawa. Salahkah pendapat saya ini ?

Ya, mungkin ini hanya sedikit sindiran untuk pemerintah, terutama daerah sih. Dan terutama lagi pihak Universitas. Mahasiswa itu bukan sebuah prototype makhluk hidup yang bisa di kekang hidupnya.  Mereka butuh napas dan tempat untuk menuangkan isi pikiran mereka yang brilian. Sediakan fasilitas pendidikan untuk mereka. Jangan ada diskriminasi antara mahasiswa yang miskin dan kaya, yang malas dan sok-sok rajin, yang terlihat lemah dan kuat, karena sebenarnya kualitas dari mahasiswa itu ditentukan oleh faktor fasilitas dan logistik yang mereka dapatkan.

Kalau ada Universitas yang banyak mahasiswanya jadi mahasiswa Abadi, maka yang di koreksi paling utama itu bukanlah mahasiswanya, tapi Universitasnya. Itulah pendapat saya sebagai seorang mahasiswa. Memang mahasiswa di haruskan mandiri, mencari ilmu sendiri, tahan terhadap tekanan dan kekangan, tapi mahasiswa juga butuh yang namanya bimbingan. Bukankah kami para mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa di masa depan, yang sering dijuluki sebagai Agen of Change, Agen of Control dan julukan – julukan lainnya.

Sekali lagi ini hanya sebuah opini dari seorang mahasiswa galau. Jangan di tanggapi ya teman – teman, ambil hikmahnya saja, karena saya hanya ingin mengapresiasikan pendapat saya.. hehe

Mari membangun bangsa dari hal yang kecil…

Dimulai dari : Memperhatikan kualitas pendidikan mahasiswa

12 thoughts on “[OPINI] CURHATAN MAHASISWA GALAU

  1. makasih.. curhat Anda memberikan inspirasi bagi saya u/ membuat sebuah opini “kampus sebagai institusi pendidikan u/ membangun kesadaran kritis dan berpikir kreatif”🙂

  2. curhat Anda memberikan inspirasi buat saya untuk membuat sebuah opini “kampus sebagai institusi pendidikan membangun kesadaran kritis dan berpikir kreatif”
    thanks🙂

  3. mahasiswa kok gaweane galau…hadeew…
    saya sedikit kurang sependapat dengan tulisan…
    sudah mahasiswa tapi masih minta difasilitasi
    sudah mahasiswa tapi gak ada semangat juang
    sudah mahasiswa tapi gak ada inisiatif
    sudah mahasiswa tapi masih menuntut kampus dan dosen mendukung selaiknya di SMA dulu..
    sudah mahasiswa tapi banyak ngeluhnya…
    sudah mahasiswa tapi masih gak bisa tegas pada prioritas…
    ayolah mahasiswa,tunjukkan bahwa kita bukan sekedar agen perubah…agen apa yang gak bisa merubah diri sendiri dan masih mengandalkan sistem untuk merubah kita..anak teknik lagi…harusnya lebih kreatif untuk menemukan tiap jawaban dari pertanyaan sendiri,saya juga teknik jadi saya tahu sehebat apa yg teknik bisa capai…
    semangaat nggih…udahin galaunya,gak penting en gak merubah apapun,…🙂

    • Akhirnya ada juga yang komentar gini..hehe
      Sip mbak, ini yang mau saya dengar dari seorang mahasiswa, semangatnya dalam menuntaskan tridharma perguruan tinggi tanpa harus memastikan apakah di fasilitasi atau nggak..
      Awalnya tulisan ini sengaja saya buat untuk menyinggung teman2 saya yang pada ngeluhin fasilitas kampus, dengan alasan ini – itu. Tapi no comment.. *maklum
      Yang Ini baru pandangan mahasiswa teknik… Kreatif, tiada rotan akar pun jadi😀
      Makasih mbak dan mampir..
      Salut buat opininya..

  4. galau berkualitas!🙂

    saya setuju dgn ini “Jangan ada diskriminasi
    antara mahasiswa yang miskin dan
    kaya, yang malas dan sok-sok rajin,
    yang terlihat lemah dan kuat, karena
    sebenarnya kualitas dari mahasiswa
    itu ditentukan oleh faktor fasilitas dan
    logistik yang mereka dapatkan.”

  5. opininya boleh juga, sering sering ada postingan begini bagus ya, jadi mahasiswa berani mengeluarkan pendapat pribadi jadi nggak nganut nganut saja

  6. wah, jadi sedikit tersinggung nih. Saya mahasiswa ABADI!. hahahaha. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu memusingkan ulah kebijakan pemerintah saat ini yang sering kali menohok nurani. Hanya saja saya sering bertanya sendiri sebenarnya sampai seberapa banyak mahasiswa yang benar-benar kuliah untuk mencari ilmu dan seberapa banyak mahasiswa yang punya empati terhadap masalah sosial disekitarnya. Berbuat sesuatu yang membanggakan bagi bangsa adalah misi sosial, dan mendapat IP luar biasa adalah misi personal. Keseimbangan keduanya itu seringkali sangat mustahil terwujud meski itu niscaya. Namun, saya masih sering bertanya sendiri sejauh mana saya dan kita yang menyebut “MAHASISWA” ini mau menciptakan kualitas dari diri kita sendiri dengan minimnya bimbingan dosen dan kadang kebijakan kampus yang tidak mendukung mahasiswa.

    • hehe, maaf mas…😛
      betul mas, banyak kebijakan kampus yang tidak mendukung mahasiswanya. Apalagi soal penelitian. Paling di Indonesia cuma 10% yang universitasnya mendukung kegiatan mahasiswanya dan biasanya itu cuma kampus yang sangat terkenal saja, sedang yang biasa kebanyakan nihil.
      Kayaknya itu juga yang menjadi sebab kebanyakan ilmuwan Indonesia beralih ke luar negeri untuk bertahan hidup dan mengembangkan penelitiannya..

      haha, tapi itu hanya opini saya mas sebagai mahasiswa yang miris dengan pendidikan di negara kita..🙂

  7. hhheee galau ya mas😀 mas reza yang idealis kalo menurut aku sih yaaa memang standar pendidikan disetiap universitas *daerah* tidak bisa disamakan. tentu yang membedakan adalah seperti kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, serta standar pendidikan dan tenaga kependidikan. Selain itu, ada standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan, dan standar penilaian pendidikan. kalo disetiap universitas harus sama yaitu dalam perwujudan *A* misalnya, mesti memenuhi kriteria seperti tadi dong😀 makanya ada akreditasi. sebenernya tergantung sama mahasiswanya, kalo emang dasarnya cerdas dan pinter mampu menjadi mahasiswa yang profesional insyaallah akan dapat berguna bagi bangsa dan negara, amin hhhee. nice post mas reza, udah lama ga bahas kehidupan mahasiswa hhe

    • haha,, iya sih mbak…
      cuma yang saya sayangkan kebanyakan di beberapa universitas kurang merespon bakat yang dimiliki mahasiswa.
      Kebanyakan juga sering men-judge mahasiswa sehingga mereka cenderung tertekan dengan perkuliahan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Nah,hal itu yang membuat saya jadi miris mbak…

      hehe, makasih mbak.. sekali – sekali kritis.. hehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s