CINTA VS STATUS SOSIAL = KEMATIAN

Hai sobat. Dah lama nggak ngisi blog ni. maklum masih sibuk dengan dunia nyata..🙂 Kebetulan lagi belum ada bahan buat tulisan, kali ini  saya posting cerpen karya teman saya. Ceritanya seru dan keren deh (biar muji penulisnya dikit supaya semangat nulis.. hehe ). Yuk, langsung aja deh sobat baca, semoga menarik..🙂

JUDUL : CINTA VS STATUS SOSIAL = KEMATIAN

Oleh : Amanah Kerzova

Namaku Raksa Sri Namundari, aku seorang mahasiswi tingkat akhir di salah satu universitas negri di kotaku, teknik sipil bidang yang kutekuni hingga saat ini. Aku tergolong siswi yang berprestasi sejak kelas 5 Sekolah Dasar, walaupun aku tumbuh di tengah lingkungan yang tidak mengenal pendidikan, tetapi semangat ku dapat membawaku hingga saat ini. Keberhasilan ku di bidang akademik tidak sejalan dengan kehidupan cintaku. Banyak sekali yang membuatku menyesal dan akhirnya merasa sedih. 8 tahun silam aku berkenalan dengan seorang pria bernama Andi, dia pria baik dan sangat pendiam. Dia jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama, kami bertemu di taman kota pertama kali, dan pertemuan itu membawaku pada kesedihan yang berkepanjangan.

Sejak melihatku di taman kota Andi berusaha mencari tahu siapa aku, hingga akhirnya dia mengetahui bahwa aku adik dari salah satu temannya, alasan itu cukup untuk membawanya datang bertamu ke rumahku. Malam itu dia datang dan mengejutkan keluargaku, sebab sangat jarang dia berkunjung ke rumah, bahkan hampir dikatakan tidak pernah ke rumahku walaupun dia berteman dengan abangku. Maksud kedatangan dia ke rumah malam itu terlihat jelas olehku, dia berusaha mendekatiku, aku cukup senang dengan keberaniannya. Aku mulai menyukai Andi, Andi pria manis yang sangat menyenangkan, sikap pendiamnya membawa pesona tersendiri buatku.

Seiring berjalannya waktu aku dan Andi semakin dekat, dia benar-benar serius ingin menjalin hubungan denganku, walaupun usia kami pada saat itu tergolong cukup muda, tetapi perasaan cinta itu bukanlah cinta monyet. Karena kedekatan kami yang sudah cukup lama, aku dan Andi memutuskan untuk pacaran. Aku sangat bahagia bersama Andi, dia benar- benar mencintaiku. Tahun pertama masa pacaran kami lalui dengan penuh kisah indah dan romantis, Andi sering membawakanku hadiah sebagai kejutan, dia datang dengan bolu dan berdiri di depan rumah sambil bernyanyi pada saat ulang tahunku, semua sungguh terasa indah. Begitu terus berjalan, Andi semakin baik dan semakin mencintaiku. Dua tahun sudah berjalan dan aku sangat mencintai Andi.

Memasuki tahun ke tiga Andi memutuskan berhenti melanjutkan sekolahnya yang hanya tinggal 1 tahunan lagi, ini dikarenakan masalah ekonomi yang melanda keluarganya. Andi memutuskan untuk bekerja. Keputusan itu tidak terlalu berpengaruh padaku, aku hanya menyetujuinya saja.

Kemudian di tahun itu juga aku berkenalan dengan seorang pria bernama Rano, dia tetangga baru di lingkungan rumahku. Rano sering berkunjung ke rumah ku untuk bermain bersama abangku, kemudian dia mengenalku, kami sering mengobrol di beranda rumah ku, aku sering bercerita tentang Andi yang sangat ku cintai padanya, begitu juga sebaliknya dia bercerita tentang wanita yang dicintainya. Kami mengobrol setiap malam, kecuali pada saat Andi datang ke rumahku. Kedekatanku dengan Rano semakin tidak terarah, Rano sudah memutuskan wanitanya dan memberikan perhatian padaku. Aku merasa sangat nyaman dengan perlakuan Rano, terelebih pada saat itu Andi hanya datang 2 minggu sekali ke rumah karena alasan pekerjaannya. Semakin hari aku semakin dekat dengan Rano, aku mulai terbiasa menghabiskan waktu dengannya. Rano adalah pria yang mapan dalam segi pendidikan dan ekonomi. Dia tidak sepadan jika dibandingkan dengan Andi.

Pada suatu malam Rano menyatakan cinta padaku, ini membuatku bingung, karena aku tahu persis Rano mengetahui bahwa aku milik Andi. Tetapi statusku tidak mengurungkan niat Rano untuk menyatakan cinta padaku, Rano bersikeras bahwa dia bisa membahagiakan aku lebih dari yang Andi lakukan. Aku terpesona oleh Rano, dia benar-benar gagah seperti lelaki sejati. Berbekal prasaan nyaman pada saat bersamanya, aku menerima Rano menjadi pacarku. Anehnya Rano menyetujui jika aku terus menjalin hubungan dengan Andi, kami pacaran di belakang Andi. Aku berkhianat. Aku menyakiti Andi tanpa dia ketahui.

Rano terlihat sangat tenang saat melihat aku bersama Andi, aku khawatir Rano tidak punya rasa cemburu. Cinta dua hati ini terus aku jalani hingga 8 bulan, hingga usia hubunganku dengan Andi menginjak tahun ke empat. Rasa cintaku mulai terbagi dua, Aku tetap mencintai Andi sebagai yang pertama, prioritasku tetaplah bersama Andi, dan itu bukanlah masalah buat Rano. Jika Rano mengajakku pergi tetapi kemudian Andi juga mengajakku, maka Andilah yang akan menjadi pilihanku. Ternyata kondisi seperti ini membuat Rano jengah, lambat laun dia tidak terima dijadikan yang ke dua lagi, dia ingin menjadi yang nomor satu. Aku ingin sekali mengabulkan permintaan Rano, tetapi kebersamaanku dengan Andi selama 4 tahun akan sia-sia, dan aku tidak ingin itu terjadi.

Akhirnya Rano menyerah dan memilih mundur dari cinta segitiga itu, hatinya ternyata tidak tahan menahan rasa cemburu terus menerus, selama ini dia berpura-pura terlihat baik-baik saja di depan ku. Dia tidak punya cara lain selain menjadi yang ke dua untuk menyampaikan rasa sayangnya padaku. Aku menyetujui keputusannya, karena aku juga mulai merasa lelah harus terus berbohong pada Andi. Rano memutuskan tali cintanya dan pindah ke kota lain, tetapi sebelum pergi dia berkata akan tetap mencintaiku dan menungguku selama hidupnya.

Aku kembali menjalani kisah cintaku bersama Andi, aku berharap masih seindah dulu saat aku belum mendua. Ternyata aku salah, kami lebih sering ribut, aku menjadi lebih mudah emosi pada Andi, kesalahan kecilnya sering kali memancing emosi ku hingga menjadi besar. Andi tetap sabar menghadapi ku, dia tetap mencintaiku dengan tulus. Cintanya padaku tidak berubah, masih sama dengan 4 tahun silam.

Aku lulus SMA dengan nilai terbaik dan diterima di salah satu universitas terbaik di kota ku. Aku memasuki masa kuliah, menjadi mahasiswi, berada di lingkungan orang-orang pintar. Ini sungguh sangat berbeda dengan lingkungan tempat tinggalku. Pola pikirku berubah, dan ini membuat komunikasi ku dengan Andi mulai terganggu, aku mulai tidak suka dengan cara berpikirnya, aku menganggap remeh dia dan merasa aku paling benar. Aku terus melakukan itu, merendahkan Andi tanpa dia sadari. Tapi Andi tetap mencintaiku, masih sama dengan 4,5  tahun silam.

Malam itu pada saat aku mengerjakan tugas gambar ku yang pertama, poselku berdering. Ada SMS datang, dari nomor yang tidak ku kenal.

“na, apa kabar ?, aku kangen la sama kamu. Sulit ngelupain kamu. Kamunya masih sama, masih ada di hatiku. Masih sangat aku cintai”

Pesan singkat ini membuat darahku berdesir, orang yang pertama terlintas di benakku adalah Rano. Ku balas pesan itu dan bertanya siapa yang mengirimnya, jari-jemariku bergetar saat menekan tombol-tombol di ponselku. Aku dan pria itu terus berbalas pesan, ternyata benar dia Rano. Kami sudah lama sekali tidak bertukar kabar. Rano mulai sering mengirim pesan singkat padaku, ucapan selamat pagi, mengingatkan makan siang, beberapa kata perhatian, ucapan selamat malam, hingga ucapan sayang pengantar tidur. Aku dan Rano mulai kembali dekat, aku selalu menunggu telpon darinya saat ingin tidur. Andi hilang sekejap dalam otakku. Aku dingin pada saat Andi datang.

Aku dan Rano menjalin kasih kembali, tapi kali ini Rano tidak ingin diduakan, dia ingin menjadi yang pertama. Aku dipaksa memilih. Keadaan ini membuatku terpaksa membandingkan antara Rano dan Andi. Andi sudah bersamaku 4 tahun lebih, itu alasan yang membuatnya pantas bersamaku. Tapi Rano, dia pria yang berpendidikan tidak seperti Andi. Dia pria yang memilki wawasan yang cukup baik, tidak seperti Andi. Dia pria yang cukup mapan dalam ekonomi, tidak seperti Andi. Dia pria yang sangat periang, tidak seperti Andi. Dan dia pria yang tidak seperti Andi. Dia pria yang status sosialnya jauh di atas Andi, dia juga yang terlihat pantas bersanding dengan wanita sepertiku. Andi kalah di semua bidang, Andi hanya punya ‘4 tahun lebih’ sebagai modalnya mempertahankan cinta kami.

Aku silau dengan status sosial Rano yang cukup baik dan ku pandang pantas dengan ku. Aku mulai mereka-reka masa depanku apabila bersama Andi dan apabila bersama Rano. Tentu dalam setiap adegan rekaan yang muncul di otakku Rano lah yang keluar sebagai pemenang mutlak. Andi menjadi semakin mengecil.

Andi dengan berat hati menerima keputusanku untuk berpisah darinya, Andi benar-benar sedih. Tapi dia tidak ingin memaksaku. Andi melepasku dan berkata, “jika adek merasa dia lebih baik, pergilah. Mas akan tetap di sini, tetap menyayangi adek, masih sama dengan 5 tahun silam”. Perkataan terakhirnya ini sempat membuatku menitikan air mata. Aku dan Andi bersama selama 5 tahun dan berakhir dengan penghianatan yang ku lakukan. Dan yang lebih mengagetkanku, Andi mengetahui semua yang ku sembunyikan darinya tentang Rano. Anehnya Andi tidak pernah marah ataupun menuduhku berkhianat, dia masih tetap menyayangiku. Andi benar-benar tulus, dia tahu benar apa yang membuat ku pergi darinya, dia tahu status sosialnya tidak begitu baik apabila disandingkan denganku, dia tahu Rano memiliki segalanya yang aku butuhkan, dia tahu Rano dapat membahagiankan aku lebih dari dirinya. Dan dia ikhlaskan semua itu. Andi meninggalkan beranda rumahku dengan tertunduk lesu, matanya basah, hatinya remuk, cintanya hancur, wanitanya berkhianat. Semua keadaan itu membuatnya lupa untuk berpamitan dengan orang tuaku. Andi pergi dengan sepeda motor tuanya, dia pergi dan mengikhlaskanku untuk bahagia bersama pria lain, bersama Rano.

Aku dengan segera memberi kabar yang ku anggap baik itu pada Rano, aku meyakinkan Rano bahwa aku benar-benar telah menyudahi hubunganku dengan Andi. Rano berteriak kegirangan mendengarnya. Dua hari kemudian Rano terbang ke kotaku, kami merayakan kebersamaan kami. Kami merayakannya dengan berjalan-jalan sepanjang hari, menghabiskan waktu berdua, hanya berdua dan tidak sembunyi-sembunyi seperti dulu.

Aku benar-benar bahagia bersama Rano, kami melewatinya dangan perasaan jatuh cinta setiap hari. Satu tahun berlalu tanpa terasa, aku masih menjadi mahasiswi dan Rano masih menggeluti pekerjaanya di bidang penyediaan barang. Rano lebih sering di luar kota, kami hanya dapat bertemu sebulan atau dua bulan sekali, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dia tidak punya waktu hanya untuk menjemputku pulang kuliah, mengantarku ke supermarket, dan lain-lain. Dia tidak punya waktu yang banyak. Kami hanya berkomunikasi dengan telepon selullar saja.

Jarak antara aku dan Rano membuatku tersiksa, aku benar-benar merindukannya, aku ingin pertemuan yang lebih intens, aku ingin dia menjemputku, menemaniku. Rano tidak ada disaat aku membutuhkannya, dia jauh di sana dan aku di sini menahan sakitnya rindu.

Sejak pertama putus dengan Andi, dia selalu mengirimiku kata-kata indah yang intinya dia masih sangat menyayangiku dan masih menungguku sewaktu-waktu apabila aku berubah pikiran, dia masih di sana menerimaku dengan pelukan terhangatnya. Hingga pada suatu hari tidak ada lagi pesan-pesan singkat dari Andi. Tiba-tiba dia menghilang. Aku merasa Andi sudah benar-benar melepasku dan tidak lagi berharap padaku.

Aku jenuh menunggu Rano yang tak kunjung datang ke kotaku, dia semakin sibuk dengan pekerjaannya, waktunya tidak lagi banyak untukku. Karirnya semakin baik dan waktunya bersamaku semakin sedikit.

Perlahan-lahan kenangan tentang Andi muncul berkelebat di benakku, kenangan itu bermunculan dengan sangat nyata seperti tayangan di bioskop. Andi setiap pukul tujuh pagi menjeputku dan kemudian mengantarkanku ke kampus lalu ia pergi bekerja. Andi setiap pukul 5 sore menjemputku di kampus dan mengantarku pulang. Andi setiap minggu pagi membawakanku es krim berbentuk hati rasa strowberry. Andi yang setiap awal bulan ketika dia menerima gaji membawaku berkeliling di kota, makan bakso di tempat favorit kami. Andi selalu berdiri di depan pintu dengan bolu di tangan dan menyanyikan lagu pada saat ulang tahunku. Andi yang selalu memberikan boneka mickey mouse di hari ulang tahunku. Andi yang selalu mengambil fotoku dalam setiap kesempatan, Andi yang selalu menyapaku dengan “selamat pagi sayang” saat dia menjemputku. Andi dengan helm merahnya selalu berada di depan rumahku pukul tujuh pagi, dia tidak pernah terlambat. Andi yang suka memasakkan aku mie instan disaat aku lapar. Andi yang suka memelukku dan menyanyikan lagu romantis di telingaku. Andi yang benar-benar kini aku rindukan. Andi yang selalu ada buatku, Andi yang selalu mengerti aku. Andi yang seluruh waktunya untukku. Andi yang sangat menyayangiku. Semua kenangan ini membuatku berlinanagn air mata, hatiku terasa amat perih, amat sakit. Aku ingin bertemu lagi dengan Andi, aku berlari keluar dan mengambil sepeda motorku, aku pergi ke rumah Andi berharap menemukan dia di sana. Ternyata aku salah, Andi telah pindah bersama keluarganya beberapa bulan lalu. Aku putus asa, aku sudah menghapus nomor ponsel Andi, bagaimana caraku untuk bertemu dia lagi. Aku kecewa. Tapi aku tak boleh berputus asa. Jalan hidupku masih panjang. Aku harus bertahan demi menebus kesalahanku. Ya, aku harus bertahan.

Kini usiaku sudah menginjak 24 tahun. Dan aku telah menjadi seorang wanita karir yang sukses. Kisah cintaku dengan Rano dan Andi sudah kututup dalam sebuah buku masa lalu. Kini aku lebih menatap masa depan, menanti seseorang yang bakal menjadi cinta sejatiku. Ya, cinta sejatiku.

TAMAT

“Wah, seru ceritanya Ana. Sedih, haru, mau nangis. Seperti kisah nyata saja”, komentar Andini ketika ia selesai membaca Novel terbaruku.

“Ya, sedikit sih. Adalah namanya juga cerita cinta. Jadi harus sedikit di cuil dari kisah nyata, hehe”, jawabku pada Andini.

“Yuk pulang, dah sore nih, dan cuacanya terlihat mendung. Ntar kita kehujanan. Kamu nggak mau kan kita pulang basah kuyup lagi seperti minggu lalu?”

“Iya, iya, oke deh novelis yang keren. Yuk kita pulang”, jawab Andini.

“Brukk. Ah, maaf mas saya nggak sengaja”, kataku pada seorang pria yang tidak sengaja kutabrak ketika syik mengobrol dengan Andini.

“Nggak apa – apa mbak…”, jawab pria itu, lalu ia terdiam menatapku.

Ketika ku mendengar suaranya, terlintas memori lama di pikiranku. Memori cinta yang sudah lama kulupakan. Memori indah dengan pria yang dulu pernah ku cintai dan khianati. Memori tentang seorang pria yang telah mengambil setengah hatiku lalu ia menghilang begitu saja. Ya, aku ingat suaranya, suara serak itu. Suara yang selalu ingin ku dengar. Aku pun menatap wajahnya. Dan kenangan itu kembali lagi. Air mataku tiba – tiba meneteskan rasa rindu yang telah lama terpendam.

13 thoughts on “CINTA VS STATUS SOSIAL = KEMATIAN

    • Iya mbak.. berdasarkan pengalaman si penulis
      lagipula banyak juga kasus terlalu lama menjalin cinta, gak tahu kapan nikahnya, eh ujung – ujungnya putus juga..
      *dilema cinta..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s