[CERPEN] CATATAN TUA IBU

22 Januari 2012

Hari ini anak pertamaku lahir. Baru kusadari ternyata persalinan itu sangatlah menyakitkan. Seakan rohku di cabut paksa oleh malaikat. Jadi seperti inilah penderitaan ibuku dulu.

Aku hampir saja menyerah dan pasrah. Namun suamiku selalu berada disisiku dan menyemangatiku. Ya, aku harus kuat. Demi kelahiran anak pertamaku

23 Januari 2012

Akhirnya anakku lahir. Bayi perempuan itu menangis keras menggetarkan seisi dunia. Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Aku mengelus kepalanya yang masih lunak. Suamiku mengumandangkan azan dan iqamah di telinganya, harapan kami agar ia selalu mengingat ibadah sholat dan menjadi anak yang salihah. Ia terlihat sangat senang, ketika pertama kali aku menyusuinya.

12 Maret 2013

Anakku sudah semakin besar. Kini ia bisa berjalan dan mengucapkan kata – kata. Aku ingat kata pertama yang ia berhasil ucapkan, “mama” katanya. Aku senang sekali saat itu, dan berdoa suatu kelak anakku bakal jadi orang pintar

18 Mei 2016

Kini anakku telah masuk Taman Kanak – kanak. Kata gurunya ia merupakan anak yang rajin di sekolah. Wah, aku terharu sekali

20 Juni 2016

Hari ini aku berduka. Suamiku meninggal dalam keadaan jihad di medan perang. Walau bersyukur karena ia mati sahid, namun aku sedih ketika kini hanya tinggal aku dan putriku tercinta. Ya Allah, terimalah amal dan ibadah suamiku, dan bantu aku menghadapi cobaan ini

23 Desember 2016

Rumah kami kebakaran. Saat itu aku dan putriku sedang tertidur pulas. Tiba – tiba aku terbangun dan menyadari kalau api sudah mengelilingi kami. Aku langsung menggendong putriku. Memeluknya erat dan menjaganya dari api yang ingin melahapnya. Aku melompati jendela lantai dua dan jatuh dengan badanku duluan. Aku senang putriku baik – baik saja, walaupun ia menangis. Mungkin karena melihat ibunya yang menghitam terkena luka bakar dan mengalami patah tulang kaki.

4 Januari 2022

Kini anakku telah masuk SMP. Wah, ia semakin besar. Tetapi suatu hari ia menangis, karena teman – teman mengejeknya “Si anak berIbu cacat”. Aku sedih karenaku putriku terpaksa harus menanggung beban juga. Tetapi ternyata putriku sangatlah hebat. Ia bilang padaku “Gak apa – apa Putri punya Ibu cacat. Karena sebenarnya Ibu Putri adalah Bidadari dari surga yang hanya memiliki sedikit kelebihan”. Aku terharu mendengarnya

6 Maret 2026

Tak terasa ia kini telah SMA. Dan menjadi lebih dewasa. Bahkan ia telah mengenal yang namanya cinta. Hm, hari ini seorang teman prianya datang ke rumah. Wah berani bener tu anak. Tapi aku senang dengan anakku. Ia tidak malu memperkenalkan Ibunya yang kekurangan ini pada teman prianya itu. Walaupun teman prianya seperti takut melihat keadaanku. Semoga ini tidak merusak hubungan mereka.

7 Juni 2027

Akhirnya anakku lulus SMA. Aku sangat bangga sekali ia menjadi salah satu murid dengan nilai terbaik di sekolahnya. Hari ini ia bilang niatnya untuk mencoba tes masuk perguruan tinggi. Ia ingin jadi dokter dan kalau nanti ia telah menjadi dokter ia ingin mengobati penyakitku. Anakku, semoga impianmu itu terwujud ya nak. Aamiin

8 Juli 2027

Alhamdulillah Ya Allah, anakku keterima di salah satu Universitas Negeri dan ia juga mendapatkan beasiswa. Semoga ini menjadi langkah awalnya menjadi seorang yang sukses. Suamiku, semoga kau juga bangga terhadap putri kita ya. Ia sekarang semakin dewasa.

12 Juli 2027

Hari ini anakku berangkat ke luar daerah demi melanjutkan cita – citanya. Aku sedih sekali tak bisa mengantarnya karena kekuranganku ini. Ya, aku hanya bisa mengucapkan doa untukmu Nak. Semoga engkau baik – baik saja di sana dan jaga dirimu.

20 Agustus 2030

Sudah 3 tahun sejak ia meninggalkan rumah. Entah bagaimana kabarmu nak. Kenapa engkau tak pernah mengirimi Ibu surat dan kenapa engkau tak membalas surat dari Ibu. Apa mungkin surat itu tidak sampai padamu, atau engkau masih sibuk dengan kuliahmu ? Gak apa – apa, aku yakin engkau pasti akan kembali. Putri kesayanganku.

22 Oktober 2034

Ku dengan dari wak Sarmin tetangga rumah yang baru pulang dari daerah tempat engkau kuliah. Ia bilang ia melihatmu telah jadi seorang dokter di sana. Aku bangga sekali akhirnya impianmu terwujud nak. Kenapa engkau tak pulang, Ibu kangen sekali samamu Putri

4 Desember 2037

Engkau masih tak kunjung pulang Nak. Kenapa engkau tak juga membalas surat dari Ibu. Sekarang Ibu sedang sakit, Ibu ingin di hari tua Ibu ada dirimu yang menemani. Bukankah engkau berjanji akan mengobati penyakit Ibu Nak. Nak, Ibu kangen sekali sama kamu. Ibu kangen bercanda ria denganmu. Ibu kangen memarahi kamu saat kamu melakukan kesalahan. Ibu ingin memelukmu sekarang, mencium keningmu. Ibu kangen dengan Putri Ibu yang dulu yang selalu marah kalau ada yang mengejek keadaan Ibu. Dimana sekarang kamu Putri ? Ibu membutuhkanmu

23 Januari 2038

Hari ini, di usia setua ini. Ibu masih ingat hari ini hari ulang tahunmu Putri. Tak terasa sudah 20 tahun lebih dirimu sekarang. Mungkin engkau telah memiliki keluarga. Ibu ingin sekali menggendong anakmu. Ibu ingat saat mengandung kamu Ibu selalu bahagia. setiap hari Ibu mengajak kamu berbicara, walau Ibu tahu kamu hanya bisa merespon dengan menedang perut Ibu. Ibu ingat mendiang Ayahmu selalu membawamu jalan – jalan ke pantai dengan sepeda tuanya lalu membelikan kamu balon setiap kamu merengek pada Ayah.

Masihkah kau ingat ulang tahun Ibu Nak. Mungkin kau sudah lupa berapa usia Ibu saat ini. Gak apa – apa Nak. Kenangan Ibu saat engkau membuatkan bunga kertas sudah menjadi kenangan perayaan setiap Ibu ulang tahun. Saat itu kamu masih kelas 3 SD. Kamu berlari masuk ke dalam rumah dengan pakaian kotor dan mengejutkan Ibu yang sedang mencuci. Kamu bilang, Selamat Ulang Tahun Ibuku tersayang. Ni Putri bikinin bunga kertas. Kata Ibu guru ini bisa jadi hadiah buat ulang tahun. Ibu sangat senang saat itu nak. Dan kini di setiap tahun sejak engkau pergi, Ibu selalu menunggu datangnya kabar darimu. Ibu selalu menunggu kejutan darimu di setiap ulang tahun Ibu. Tapi engkau tak kunjung datang. Mungkin umur Ibu tak lama lagi Nak. Ibu bermimpi Ayahmu datang mengajak Ibu tinggal bersamanya di Surga. Putri, Ibu ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya Nak. Cukup itu saja keinginan Ibu tak lebih.

Air mata itu menetes membasahi pipi wanita itu ketika ia membaca buku catatan tua peninggalan Ibunya. Saat itu adalah saat pemakaman Ibunya. Ia hanya bisa menangis meratapi kuburan Ibunya.

“Ibu, maafin Putri. Putri selama ini tidak pernah kasih kabar ke Ibu. Ibu, maafin Putri yang tak pernah lagi menanyakan kabar Ibu karena kesibukan Putri. Ibu maafin Putri yang telah ingkar janji buat memngobati Ibu. Maafin Putri buk, Putri menyesal. Ibu, Ibu, maafin Putri Bu”,teriak wanita itu dan menangis keras memeluk kuburan Ibunya.

“Ibumu selalu menunggu Put. Saat dapat kabar dariku tentang dirimu yang telah jadi dokter, ia senang sekali. Dengan bangganya ia keluar dari rumah dan menemui tetangga – tetangga. Setiap rumah ia berteriak “Anakku telah jadi dokter dan ia bakal nyembuhin penyakitku”. Ia menyeret kan badannya tanpa peduli kalau badannya telah kotor dengan tanah. Ia begitu bangga padamu Put, hingga ia ingin seluruh dunia tahu Anak kesayangannya telah menjadi seorang dokter”, kata wak Sarmin pada wanita itu

“Ibu…Hhhhh… Maafin Putri”

 

7 thoughts on “[CERPEN] CATATAN TUA IBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s